Bayang-Bayang Kebaikan: Kejahatan yang Tak Disadari
Di balik senyum manis dan ucapan suci, ada sesuatu yang sering luput kita sadari: kenikmatan tersembunyi saat melihat orang lain menderita. Ia bukan kebencian terang-terangan, bukan kekerasan fisik. Ia datang dalam bentuk yang lebih halus, lebih canggih, dan lebih mematikan. Dalam bahasa psikologi, ini dikenal sebagai Schadenfreude—rasa puas ketika melihat orang lain berada dalam posisi sulit.
Saudaranya bernama Gloating, yaitu rasa nyaman saat merasa diri lebih tinggi di atas kegagalan orang lain. Ini bukan semata soal emosi negatif. Ini adalah pantulan dari kesadaran yang terdistorsi. Kita merasa “baik”, bahkan merasa jadi “penyelamat”, padahal di balik semua itu tersembunyi motif dominasi, pelarian dari luka batin, atau sekadar mencari pengakuan.
Kebaikan yang Menyakiti
Di zaman yang penuh pencitraan ini, menjadi "baik" adalah strategi sosial. Maka orang berlomba-lomba untuk tampil moralis, religius, dan penuh empati. Namun sayangnya, kebaikan itu seringkali hanya sebatas tampilan luar. Di dalamnya, ada hasrat terpendam untuk mengontrol, menghukum, bahkan merendahkan.
Kita diajari bahwa emosi negatif harus ditekan, bukan dipahami. Maka lahirlah manusia-manusia yang terlihat tenang di luar, tapi di dalam hatinya penuh gejolak yang tak tersalurkan. Mereka menyumbat amarah dan hasrat agresifnya, lalu menyalurkannya lewat cara yang “sah” secara sosial: menasehati, menggurui, atau menolong dengan cara yang menyakiti.
Tanpa disadari, kebaikan yang tak disertai kesadaran justru menjadi instrumen kekerasan baru. Lebih berbahaya karena tersembunyi, lebih licik karena berselimut kasih sayang.
Agama, Sistem, dan Luka yang Tak Pernah Sembuh
Lalu mengapa ini bisa terjadi? Karena jiwa manusia kehilangan kedalaman. Pendidikan, budaya, dan agama sering hanya menyentuh permukaan. Mereka mendidik lewat sistem imbalan dan ancaman. Surga dan neraka dijadikan alat kontrol. Harapan dan ketakutan dijadikan tali pengikat.
Padahal luka spiritual tak bisa disembuhkan dengan dogma. Ia butuh pemahaman, penjelajahan batin, dan kejujuran. Tapi sistem tidak mengizinkan itu. Sistem lebih suka keteraturan, bukan kesadaran. Maka lahirlah generasi yang penuh ketakutan, rasa bersalah, dan trauma—semua tersimpan rapi di bawah sadar.
Ironisnya, di permukaan, mereka tampak religius. Tapi di balik ibadah dan aturan, ada dendam dan iri yang terbungkus doa. Itulah wajah asli dari kejahatan bawah sadar. Dan ketika ini dilembagakan, maka kekerasan pun mendapatkan stempel legalitas dan sakralitas.
Simulacra: Dunia Palsu yang Kita Anggap Nyata
Dunia modern telah menggantikan realitas dengan citra. Kebenaran tak lagi penting, yang penting adalah persepsi. Maka lahirlah fenomena simulacra—kebaikan palsu yang dirancang agar terlihat indah. Segala hal yang sejati ditutupi jargon: “demi keadilan”, “demi Tuhan”, “demi hukum”. Tapi dibalik itu, ada eksploitasi, ada kontrol, ada kekuasaan.
Inilah akar dari berbagai krisis yang kita hadapi hari ini. Ketimpangan ekonomi, konflik identitas, polarisasi politik, hingga kerusakan lingkungan—semuanya adalah buah dari kesadaran manusia yang membusuk secara kolektif. Dunia tampak semakin maju, tapi jiwa manusia justru mundur, liar, dan kehilangan arah.
Kedatangan Kesadaran, Bukan Juru Selamat Berkuda Putih
Banyak agama berbicara soal “akhir zaman”. Tapi mungkin kita keliru menafsirkannya. Mungkin, akhir zaman bukanlah kehancuran fisik, tapi kehancuran ilusi kolektif. Dan Sang Juru Selamat / Messiah / Imam Mahdi dsb,bukanlah tokoh mitologis yang turun dari langit, melainkan turunnya kesadaran ke dalam hati manusia.
Kesadaran ini akan menguak semua kebusukan yang tersembunyi. Ia bukan datang untuk menghakimi, tapi menyembuhkan. Dan itu hanya bisa terjadi bila kita berani menengok ke dalam: menyelami batin yang penuh luka, mengakui bagian diri yang gelap, dan memeluknya dengan cinta.
Ketika satu demi satu manusia mengalami kebangkitan batin, maka tatanan dunia akan berubah. Tanpa perlu sistem tirani, tanpa perlu kekuatan militer atau algoritma pengawasan. Ketertiban akan lahir dari kedalaman. Itulah yang disebut Higher Order, atau dalam bahasa kitab suci: Yerusalem Baru. Sebuah kondisi jiwa yang utuh, tak terbagi, dan menyatu kembali dengan Sumber Sejati.
Jadi, bila dunia saat ini tampak kacau, jangan buru-buru menyalahkan luar. Mungkin inilah saatnya kita menengok ke dalam. Sebab yang perlu dihancurkan bukan dunia, tapi topeng-topeng kita. Yang perlu datang bukan pahlawan dari langit, tapi kesadaran yang lahir dari keheningan batin.
Biarlah ini menjadi akhir dari zaman kebohongan, dan awal dari zaman kejujuran rohaniah. Dan bila kamu menemukan Sang Juru Selamat itu dalam dirimu sendiri, maka kamu tak lagi butuh diselamatkan. Karena saat itu, kamu telah pulang ke Rumah Kesadaran.

Komentar
Posting Komentar