Sinkronisasi Kesadaran
Permasalahan mendasar dari semua agama dan ideologi adalah keterikatan (attachment) terhadap konsep-konsep yang mereka ciptakan. Meski berbicara tentang pembebasan, konsep-konsep tersebut justru menjadi penjara ilusi yang membatasi diri mereka sendiri.
Karena itu, jika seorang pencari spiritual malah melekat pada apa yang dijelaskan di sini, itu pun menjadi hambatan. Segala yang diungkapkan hanyalah penunjuk arah, bukan tujuan akhir. Ia perlu ditelusuri sendiri hingga menjadi pengalaman nyata. Saat pengalaman itu tercapai, konsep pun kehilangan relevansi. Seperti membicarakan tentang es jeruk — saat anda telah mencicipinya sendiri, tak lagi berguna terus membahas rasa es jeruk, kecuali untuk memberi petunjuk kepada yang belum pernah merasakannya.
Bayangkan setiap konsep yang anda pahami membentuk semacam percabangan baru dalam jaringan saraf otak anda.
Otak kita, yang terdiri dari jutaan neuron, saat ini bekerja dalam kondisi tidak selaras, simpang siur. Karena itu, konsep-konsep tertentu diberikan untuk menumbuhkan koneksi-koneksi penting, yang membantu otak mulai mensinkronkan dirinya.
Pertumbuhan percabangan saraf ini bisa dipicu oleh beragam bentuk konsep — baik itu tentang sosok Mahadewa tak berwujud, figur manusia-dewa yang maha kuasa, metafisika energi, mitologi wayang, bahkan fiksi modern seperti The Matrix Trilogy. Melalui pertumbuhan ini, anda mulai menemukan lapisan-lapisan pemahaman baru dalam hidup sehari-hari. Sampai pada akhirnya, seluruh jaringan itu tersinkron secara total, lalu... berhenti. Di titik hening itu, anda menyadari bahwa semua konsep yang pernah anda pelajari ternyata mustahil untuk mengungkapkan kebenaran sejati. Di situ pula berakhirnya "Diri" — karena apa yang anda anggap sebagai diri hanyalah imaji, hasil dari tumpukan konsep yang terbentuk dalam jaringan saraf yang sebelumnya tidak sinkron.
Ketika pikiran berhenti, sesuatu yang lain terungkap. Bukan lagi "aku", melainkan keseluruhan yang bebas dari semua pola pikir yang bisa dipahami.
Masalah muncul ketika konsep-konsep pendukung itu disalahartikan sebagai tujuan akhir. Saraf-saraf otak kemudian terjebak di pusat semu itu, menciptakan ketimpangan dan memperkuat ilusi ego. Inilah mengapa dalam jalan spiritual sejati, ada proses un-learning — melepaskan keterikatan pada saraf-saraf konsep yang stagnan, membongkar bias-bias yang mengacaukan totalitas kesadaran.
Dengan demikian, otak diberikan kesempatan untuk bergerak dalam keharmonisan total, melampaui fragmentasi-fragmentasi kecilnya, hingga terjadi sinkronisasi agung di mana pemahaman tentang "diri" sebagai ilusi menjadi terang benderang. Saat ilusi ini runtuh, sebuah kehidupan baru muncul — tanpa batas, tanpa tepi. Sebuah dimensi eksistensi yang keindahannya melampaui segala kata.

Komentar
Posting Komentar