Renungan Pagi tentang Ruh
Bayangkan spirit (ruh) itu seperti nyala api. Ia tak pernah berkurang meskipun dari satu api kecil dinyalakan jutaan lilin lain. Cahaya itu tetap utuh, tetap hidup, tak seperti air, tanah, atau udara yang bisa berkurang bila diambil.
Begitulah hakikat keberadaan manusia. Secara potensial, kelahiran jiwa-jiwa baru tak berbatas. Yang menjadi batas bukanlah jumlah spirit, melainkan tersedianya bahan-bahan kehidupan — sumber daya alam sebagai bahan bakar fisik. Saat bahan bakarnya habis, nyala kehidupan pun redup.
Jika kita telusuri lebih dalam, segala sesuatu bermula dari kehampaan. Lalu terjadi ledakan besar — Big Bang — yang menyebarkan energi dan cahaya ke segala arah, membentuk ruang-waktu. Dari percikan-percikan itu lahir plasma, lalu bintang-bintang, galaksi, dan akhirnya planet-planet. Matahari kita adalah salah satu bintang itu — pemancar energi yang menopang kehidupan di bumi.
Energi matahari pertama kali diserap oleh sel-sel tanaman. Tanaman lalu menjadi makanan hewan, dan hewan menjadi makanan manusia. Dengan kata lain, tubuh kita adalah bentuk lain dari energi matahari, yang berpadu dengan empat unsur lainnya: tanah, air, udara, dan api.
Namun, seiring dengan perkembangan bentuk-bentuk individu, manusia kerap lupa akan asal-muasalnya: bahwa kita semua berasal dari satu sumber yang sama.
Apakah ada energi yang tetap murni, tidak membentuk tubuh fisik?
Ada. Mereka dikenal sebagai malaikat, dewa, dan energi-energi halus lainnya. Mereka tetap dalam wujud energi murni, bekerja tanpa kehendak bebas, bergerak menurut Hukum Pertama semesta. Ada yang bergerak kembali menuju Sang Sumber (Great Order), dan ada pula yang menjauh, menuju kekacauan total (Total Disorder) — itulah yang kita sebut sebagai Demon.
Manusia, dalam perkembangan egonya, menciptakan banyak realitas semu — fantasi-fantasi sekunder yang membuat jiwanya tercerai-berai. Dari situlah akar dari gangguan mental dan, pada akhirnya, penyakit fisik.
Dan cahaya — energi yang selama ini kita butuhkan bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk jiwa. Di zaman purba, manusia berkumpul di sekitar api unggun; kini kita berkumpul menatap televisi, layar komputer, kembang api, bioskop — semua berbasis cahaya. Dari cahaya itu mengalir informasi, yang menjadi makanan bagi jiwa kita.
Jika makanan itu sehat, jiwa bertumbuh kuat, bercahaya, dan menyebarkan terang ke sekelilingnya. Jika makanan itu beracun, jiwa pun melemah dan sakit.
Ini mungkin terdengar alegoris, namun sebenarnya nyata. Siapa pun bisa merasakannya dalam dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar